Renungan Akhir Tahun & Resolusi Tahun 2014
Waktu adalah sesuatu yang tak
terbendung, ia akan terus bergerak sekalipun kita telah lelah untuk
beranjak dari tempat kita berdiri, ia akan terus melangkah ke depan
sekalipun kita telah kehilangan semangat dalam mengarungi kehidupan
ini.
Tapi inilah realitas dari
kehidupan, ketika kita merasa telah berjuang begitu keras, ternyata
masih banyak kerikil tajam yang masih mengganjar di setiap langkah
kita, ketika kita telah berupaya, masih ada kegagalan yang menghampiri
kita, masih ada tangis yang mengiringi jalan kita, masih banyak hal
yang tidak sesuai dengan harapan kita, apalagi ketika kita memasuki
tahun-tahun penuh tantangan seperti ini.
Di keluarga, ketika kita
didudukan sebagai anak, kita merasa kurang mendapat perhatian dari
orang tua, dan sebaliknya sebagai orang tua, kita merasa anak zaman
sekarang sangat sulit dididik, walaupun kita telah berupaya melakukan
terbaik untuknya, lalu ketika usia kita beranjak senja, sebagai opa dan
oma, kita merasa ditinggali dan terabaikan, kita kesepian.
Di pekerjaan, ketika kita
didudukan sebagai karyawan, kita merasa tenaga kita telah diperas habis
oleh perusahaan dan sebaliknya sebagai pemilik perusahaan, kita merasa
karyawan kita kurang berdedikasi dan tidak bertanggungjawab, dan hanya
pintar menuntut. Dan ketika hal itu terjadi pada diri kita, ketika
kita dibenturkan dengan masalah-masalah tersebut, kita merasa sebagai
makhluk yang paling malang, sebagai insan yang paling menderita di
dunia.Kita pun segera bertanya-tanya, mengapa alam begitu tidak adil,
mengapa kita harus terlahir menanggung derita-derita yang
berkepanjangan ini?
Ketika rentetan peristiwa datang
bertubi-tubi dan pertanyaan itu tak terjawabkan, kita dilanda rasa
frustasi yang teramat sangat, kita merasa begitu lelah, kita merasa
terabaikan, tubuh kita seakan mati rasa, denyut nadi kita berhenti
sesaat, kita segera terjebak dalam ruang gelap yang tidak pernah kita
tahu kapan berakhirnya.Lalu, sebelum semuanya semakin kelam, mari kita
katup mata kita dan buka hati kita, mari kita manfaatkan waktu ini
untuk merenung, menelaah dan mencari pencerahan dari cerita kecil ini,
sang tukang kayu dalam kisah ini mungkin akan membangunkan hati kita.
Lewat tanpa disadari. Kita berubah menjadi seperti mesin. Dengan letupan-letupan sesaat. Bergerak terus hingga waktu membuat kita aus, berkarat lalu perlahan-lahan rusak dan mati. Tetapi jika kita adalah mesin, apakah gunanya pemikiran kita? Apakah fungsinya kesadaran kita? Tidakkah seharusnya kita jelajahi hidup untuk mencari kebenaran. Untuk membuktikan keberadaan kita di dunia ini. Dan kita dapat menghindari penderitaan dengan menyatakan kejujuran. Mengapa kita harus melarikan diri dengan berpura-pura bahwa segalanya abadi? Mengapa kita harus menyembunyikan duka lara kita masing-masng?
Penderitaan memang dapat terjadi karena hal-hal yang di luar jangkauan kita. Lingkungan kita, orang lain, ketidak mampuan kita atau karena sistim yang membelenggu dengan aturan-aturan yang tidak adil. Tetapi jauh lebih sering, ternyata, bahwa penderitaan kita berasal dari diri kita sendiri. Dari pola pikir kita. Dari keinginan-keinginan kita. Dari nafsu dan ambisi kita. Dari ketidak mampuan kita untuk menilai dan memahami dunia di luar diri kita. Dan dari kegagalan kita untuk mencapai sasaran-sasaran yang kita inginkan. Kita terbui dalam ruang sempit ke-AKU-an sehingga gagal melihat banyak hal di luar dinding ke-AKU-an kita. Banyak hal yang baik pun yang buruk. Yang harum pun yang busuk. Yang indah pun yang jelek. Hidup bukanlah sebuah mimpi. Hidup adalah kenyataan yang mesti dialami bersama dunia seluruhnya. Kita dituntut untuk menyadari hal itu.
Dikisahkan, seorang tukang kayu
yang telah kelelahan berkarya ingin segera menjalani kehidupan
pensiunnya, sejak awal dia adalah tukang kayu yang berbakat, tukang
kayu yang berdedikasi tinggi atas pekerjaannya, tukang kayu yang
bertanggung jawab penuh.Ketika ia menyampaikan keinginannya kepada Sang
Tuan, ia malah diberi tugas terakhir sebelum pensiun, sang Tuan ingin
ia membuat sebuah rumah megah untuknya.
Tukang kayu yang berbakat itu
tiba-tiba berubah, ia menjadi tukang kayu yang sembrono, tukang kayu
yang asal-asalan. Pukulan palu yang harus ia ayunkan tiga kali, hanya
ia ayunkan satu kali, itu pun ia lakukan dengan tidak sepenuh hati.
Dengan terpaksa ia menyelesaikan tugas terakhirnya, ia merasa Sang Tuan
tidak lagi berpihak padanya, ia sungguh kecewa. Dan kekecewaannya ia
lampiaskan pada pekerjaanya.
Sebuah “Rumah Mewah” yang jauh
dari arti “Mewah ” akhirnya selesai tepat waktu.Ketika hari pensiun
tiba, sang tukang kayu akhirnya mendapat sebuah amplop yang berisi
sejumlah uang pensiun dan sebuah “KUNCI” rumah. Ketika ia menerimanya
segera ia tersadar, ternyata kunci yang digenggamnya adalah kunci dari
“Rumah Mewah” yang baru selesai dibangunnya. “Hadiah special ini
dipersembahkan padamu, karena kerjamu yang luar biasa dan berdedikasi
selama bekerja di sini.” Kata Sang Tuan.Lalu, sang tukang kayu hanya
mampu melihat kunci rumah itu dengan “PENYESALAN”.
Bukankah kita seperti tukang kayu
ini, kita kadang-kadang lupa bahwa kita adalah pembuat rumah untuk
diri kita sendiri.Ketika kita membangun rumah masa depan kita dengan
sembrono, kita akan mendapatkan rumah yang mungkin kita tidak sukai,
tapi itulah rumah yang harus kita tempati, rumah yang kita bangun
dengan ayunan tangan kita. Kita boleh merasa kecewa ketika kita
mendapati kenyataan bahwa rumah kita tidak seindah yang kita impikan,
bahkan reok.
Kita boleh merasa kecewa ketika
kita harus melalui kehidupan yang tidak menyenangkan, tapi inilah
realitas hidup, sedih yang berkepanjangan tidak akan mengubah rumah
yang telah kita bangun dengan tangan kita sendiri, oleh karma yang
telah kita tanamkan.
Lalu, mari kita kembali pada
kehidupan kita yang keras, yang penuh tantangan, ketika segalanya
berubah menjadi kacau dan tidak terkendali, ketika kita begitu
frustasi. Saat ini, kita masih diberi waktu untuk mengubah rumah masa
depan kita, kita masih diberi waktu untuk memperindah setiap sudut
ruangan hati kita. Mari kita kembali renungkan apa yang telah kita
perbuat selama ini, bagaimana kita membangun rumah kita, seberapa baik
kita telah membangun masa depan kita? Disadari atau tidak, kita dapat
membangun rumah kecil kita melalui hal-hal sederhana, kita dapat
membangunnya melalui pelukan kita pada mama, melalui secangkir kopi
yang kita suguhkan pada papa, melalui kecupan selamat pagi untuk
pasangan kita, atau melalui aluran tangan kita untuk menuntun
bocah-bocah kecil kita.
Ketika damai dalam rumah kecil
itu tercipta, kita akan mampu memancarkan cahaya kasih yang terbentuk
dari rumah ini melalui uluran tangan kita bagi mereka yang
membutuhkannya, kita juga akan mampu membangun kesempatan untuk tumbuh
dan berkembang, kesempatan untuk membangun rumah yang jauh lebih besar
dan megah, yang dapat memberikan kehangatan kasih bagi insan-insan
yang mendiaminya. Ketika hal itu tercipta, semua akan terasa indah,
masalah yang datang bertubi-tubi akan menjadi batu asah dalam
memperindah kualitas hidup kita.
Beban berat yang kita pikul akan
menjadi lebih ringan, karena tangan-tangan kasih dari ayah bunda,
saudara, kerabat dan teman akan membantu kita melaluinya. Dan kita pun
akan menjadi kokoh. Melalui kesempatan ini, ketika kita masih ada
waktu, selama kita masih diberi kesempatan untuk berbagi kasih, mari
kita lakukan hal-hal sederhana itu sekali lagi. Mari peluk Mama yang
di samping kita dan nyatakanlah cinta kita, mari kita kecup kening
bocah kecil kita, mari kita genggam tangan pasangan kita dengan mesra,
mari kita jabati teman kita dan katakan betapa kita menghargai
persahabatan itu dan mari kita maafkan mereka yang pernah menyakiti
kita.
”Kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin. Mimpi hari ini adalah Kenyataan Hari esok”
Buat Impian Sekarang Juga
Akhir tahun seperti ini adalah
saat yang penting untuk introspeksi atas prestasi yang telah kita capai
hingga saat ini dan pada saat yang sama berani merencanakan untuk
kemakmuran kita di tahun mendatang. Ada ungkapan yang mengatakan : “Barangsiapa
yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia merupakan
orang yang beruntung. Kalau sama saja, Dia adalah orang yang merugi.
Kalau lebih buruk, Dia adalah orang yang celaka”.
Jadi, mumpung masih ada waktu mari
kita luangkan waktu untuk sejenak menyepi dan membuat big picture,
visi atau impian yang kita inginkan untuk kemakmuran kita di tahun
mendatang. Atau dalam bahasa agama, mulailah dengan niat atau nawaitu
seperti yang disampaikan dalam hadist arbain an nawawi : “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya……”.
Sebagai penggugah, Bill Gates pernah
bermimpi suatu saat dapat menghadirkan komputer ke rumah-rumah.
Sesuatu yang dianggap sulit diwujudkan pada masa itu. Mimpinya itu hari
ini menjadi kenyataan dengan menjadikannya sebagai orang terkaya di
dunia. Perlu diingat, mimpi dapat mengubah hidup seseorang.
Begitu juga dengan Oprah winfrey,
siapa yang tidak kenal nama ini. Pada usia 9 tahun, Oprah mengalami
pelecehan sexual, dia diperkosa oleh saudara sepupu ibunya beserta
teman-temannya dan terjadi berulang kali. Di usia 13 tahun Oprah harus
menerima kenyataan hamil dan melahirkan, namun bayinya meninggal dua
minggu setelah dilahirkan. Ia memiliki obsesi menjadi manusia sukses
yang punya karakter dan ia berhasil.
Masih banyak lagi kisah-kisah luar
biasa berhasil diwujudkan orang-orang sukses karena dalam dirinya
tertanam mimpi, obsesi dan harapan. Itulah energi yang menghantarkan
mereka ke puncak kesuksesan. Mereka berhasil keluar dari derita, mereka
berhasil mendobrak pintu kelemahan, mereka mampu mewujudkan harapannya
menjadi kenyataan.

