LSM - PKBM MENSA

Minggu, 18 Januari 2015










Rasionalitas Kapolri Non-tersangka
Kompas.com/SABRINA ASRIL
Presiden Joko Widodo mengumumkan menunda melantik Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai Kapolri di Istana Merdeka, Jumat (16/1/2015) malam. Sebagai gantinya, Jokowi menunjuk Wakapolri Komjen Badrodin Haiti untuk melaksanakan tugas sebagai Kapolri.

Oleh: Denny Indrayana
POS KUPANG.COM -- Akhirnya Presiden Joko Widodo lulus ujian sebagai negarawan. Kebijakannya untuk tidak melantik Komisaris Jenderal Budi Gunawan adalah kebijakan hukum yang rasional. Meskipun mengangkat Pelaksana Tugas Kapolri bukan berarti tanpa masalah, terlebih jika dikaitkan dengan kasus rekening gendut.
Hukum itu logis, rasional. Maka, jika saja seorang calon Kapolri tersangka yang diusulkan Presiden Jokowi, disetujui DPR, lalu tetap dilantik Presiden, yang dicederai adalah hukum yang rasional, hukum yang berpijak pada akal sehat, hukum yang bersandar pada hati nurani. Mengapa irasional, berikut penjelasannya.
Hukum itu tidak manipulatif. Setiap upaya untuk memanipulasi hukum cenderung akan koruptif. Mengatakan pengangkatan dan pemberhentian Kapolri adalah hak prerogatif presiden tidaklah 100 persen benar, cenderung manipulatif. Setidaknya, lebih tepat dikatakan ini adalah hak prerogatif yang terbatas.
Hak prerogatif yang sebenarnya adalah hak mutlak yang melekat pada presiden seorang, tanpa pembatasan dalam bentuk apa pun, dan dijamin penuh oleh konstitusi. Padahal, dalam urusan pengangkatan dan pemberhentian Kapolri, hak presiden dibatasi oleh persetujuan DPR. Lebih jauh, hak presiden itu tidak dijamin dalam konstitusi, tetapi hanya diatur dalam UU Polri.
Hukum itu untuk adil haruslah konsisten, istikamah. Maka, setiap kebijakan, setiap proses yang tidak konsisten, cenderung tidak adil dan cenderung koruptif. Karena itu, ketika Presiden Jokowi melibatkan KPK dan PPATK ketika menyeleksi menterinya, serta tidak melibatkannya dalam proses seleksi Kapolri, inkonsistensi demikian menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa? Pertanyaan yang sama ditujukan kepada DPR, yang sebelumnya melibatkan PPATK dalam uji kelayakan dan kepatutan Kapolri, dan tidak untuk proses kali ini.
Masih banyak pertanyaan lain soal rekening gendut yang sebenarnya layak ditanyakan dalam proses uji kelayakan dan kepatutan: kenapa DPR hanya mendasarkan keputusan pada keterangan sepihak Komjen Budi Gunawan dan hasil pemeriksaan Bareskrim Polri? Kenapa tidak membandingkan dengan data KPK dan PPATK? Kenapa Budi Gunawan tidak dikejar dengan pertanyaan apa bisnis legal yang keluarganya lakukan? Bisnis apa yang dalam 1 tahun bisa menghasilkan aliran transaksi Rp 50 miliar lebih? Kalau itu pinjaman, kenapa pinjaman bisnis dari luar negeri itu dalam rupiah? Kenapa tanpa agunan?
Penegakan hukum itu menolak politisasi, dipengaruhi oleh pertimbangan politik. Yang bisa menjadikan seorang tersangka harus—dan hanya—adanya minimal dua alat bukti yang cukup. Maka, tepatkah argumentasi bahwa KPK sedang bermain politik ketika menetapkan Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka? Saya berpendapat KPK tidak memolitisasi.
Saya mengetahui, KPK sudah lama membangun komunikasi dengan pimpinan Polri terkait kasus rekening gendut. Hal itu dilakukan sebagai bentuk sopan santun di antara penegak hukum. Kita juga sama-sama mendengar informasi bahwa ketika Presiden Jokowi menyeleksi calon menteri, KPK sudah memberikan catatan merah kepada calon menteri yang terindikasi kuat korupsi. Saya juga mendengar, KPK telah berusaha keras untuk bertemu dan memperingatkan (lagi) Presiden Jokowi sebelum mengusulkan nama calon Kapolri ke DPR.
Dengan berbagai langkah antisipatif dan strategis demikian, KPK justru telah berusaha keras agar kasus ini tidak menjadi bola panas politik. Tetapi, ketika Presiden tetap saja tanpa mendengar dan menemui KPK mengusulkan nama Komjen Budi Gunawan, maka menjadi sangat tepat ketika KPK mengambil langkah lebih tegas dengan menetapkan yang bersangkutan menjadi tersangka.
Tentu dengan harapan dan perhitungan, Presiden dan DPR kemudian menghentikan proses seleksi Budi Gunawan sebelum telanjur menjadi Kapolri. Sebab, pastilah lebih sulit dan berbahaya situasinya jika penetapan tersangka dilakukan setelah Komjen Budi Gunawan menyandang bintang empat dan memegang tongkat komando sebagai Kapolri.
Sayangnya, harapan itu meleset. Dengan bersandar pada argumen adanya proses politik di DPR, Presiden dan DPR lagi-lagi tidak menghiraukan warning hukum KPK, dan tetap kekeh meneruskan proses seleksi Kapolri. Dengan data dan fakta demikian, jelaslah bahwa yang konsisten menegakkan hukum adalah KPK, sedangkan yang enggan menghiraukan dan terus melakukan proses politik adalah Presiden dan DPR. Jadi, harusnya makin jelas pihak mana yang memolitisasi kasus ini, yang pasti justru bukanlah KPK.
Selanjutnya, penegakan hukum yang baik itu dapat diprediksi dan karena itu bisa diantisipasi. Maka, setiap kegagalan mengantisipasi penegakan hukum menjadi cenderung tidak adil. Postulat ini penting sebagai dasar argumen bahwa memaksakan calon Kapolri yang tersangka sangat berbahaya. Berdalih penghormatan pada asas praduga tidak bersalah memang terkesan kokoh, tetapi menyesatkan. Harusnya, Presiden Jokowi dan DPR dengan mudah bisa mengantisipasi, bahwa siapa pun yang ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK, hampir pasti menjadi terpidana korupsi.
Rekam jejak kinerja KPK terang benderang menunjukkan 100 persen tingkat keberhasilan KPK dalam penegakan hukum kasus-kasus korupsi. Maka, menggantungkan nasib bangsa Indonesia pada kemungkinan besar Kapolri menjadi terdakwa, dan bahkan terpidana kasus korupsi, adalah keputusan politik yang tidak bijak, padahal sangat mudah diprediksi, dan seharusnya mudah diantisipasi.
Akhirnya, moral principle is the foundation of law (Ronald Dworkin, 1986). Prinsip moral adalah fondasi utama hukum. Hukum bukan semata-mata prosedur. Memang tidak ada aturan hukum bahwa calon Kapolri yang tersangka harus mundur atau dinonaktifkan. Yang ada, UU KPK Pasal 12 Ayat (1) Huruf e mengatur KPK berwenang memerintahkan pimpinan/atasan untuk menonaktifkan anak buahnya yang tersangka. Dalam UU Pemda, yang diberhentikan sementara adalah kepala daerah yang telah menjadi terdakwa.
Meski demikian, kita telah mempunyai tradisi ketatanegaraan di era pemerintahan SBY, ketika Menpora, Menteri Agama, dan Menteri ESDM ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK, mereka mundur dari jabatannya. Seharusnya moralitas adiluhung demikian yang dikedepankan. Calon Kapolri yang tersangka mestinya legawa mundur dan bukan justru dilantik menjadi Kapolri definitif.
Saya memilih Presiden Jokowi pada Pemilu Presiden 2014. Besar harapan kami Presiden melanjutkan kebijakannya yang tidak melantik Budi Gunawan dengan segera memilih Kapolri definitif yang betul-betul bersih. Jangan biarkan institusi Polri terlalu lama seakan-akan punya tiga jenderal bintang empat: mantan Kapolri Sutarman yang baru akan pensiun pada Oktober 2014, Plt Kapolri Badrodin Haiti, dan calon Kapolri terpilih Budi Gunawan.
Bagaimanapun, Kapolri definitif sebaiknya segera dilantik, yang tentu berdasarkan rekam jejak anti korupsi yang jelas, dan tentunya tidak terkait persoalan rekening gendut. Kali ini dengan revolusi mental dan hukum yang rasional, harus dipastikan, tidak akan lagi terpilih calon Kapolri yang bermasalah, apalagi tersangka kasus korupsi.
Denny Indrayana
Guru Besar Hukum Tata Negara UGM
Diposting oleh Unknown di 16.39 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Minggu, 11 Januari 2015

PAGRAM PNPM DI HENTIKAN,RIBUAN TENAGA PENDAMPING TERANCAM PHK

Program PNPM Dihentikan, Ribuan Tenaga Pendamping Terancam PHK

Sabtu, 10 Januari 2015 18:45 WITA

+ Share
Program PNPM Dihentikan, Ribuan Tenaga Pendamping Terancam PHK
Net
Logo PNPM
POS KUPANG.COM -- Ikatan Pelaku Pemberdayaan Masyarakat Indoensia (IPPMI) Kabupaten Gresik menyesalkan pemberhentian pendamping Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan sehingga ratusan juta rupiah dana tidak tersalurkan dan aset produktif masih di masyarakat.
Pemberhentian tersebut sesiuai Surat Dirjen PMD Nomor 414.2/10768/PMD tanggal 29 Desember 2014 perihal penghentian kontrak kerja fasilitator pemberdayaan PNPM Mandiri Perdesaan.
“Ada dana PNPM Mandiri Perdesaan dari APBN dan APBD pada 2014 jumlahnya mencapai Rp 30,7 miliar. Dari dana tersebut masih ada Rp 795,76 juta belum terserap. Ada dana bergulir yang dikelola Unit Pengelola Kegiatan di 13 Kecamatan senilai Rp 44,3 miliar. Manfaat yang dapat dirasakan fasilitator dan masyarakat pedesaan sangat tersa sekali, khususnya untuk pembangunan Desa,” kata M Zamroni, Ketua IPPMI Kabupaten Gresik, Jumat (9/1/2015).
Dampak lain yaitu timbulnya pengangguran baru, sebab banyak pendamping dana PNPM Mandiri Pedesaan se-Kabupaten Gresik jumlahnya mencapai ribuan tenaga ahli dan kader pendamping program PNPM Mandiri Pedesaan terancam putus hubungan kerja (PHK).
“Di 13 Kecamatan hingga pendamping di Desa mencapai 16,5 ribu orang,” katanya. (Surya Online

Diposting oleh Unknown di 15.40 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Jumat, 09 Januari 2015

Bupati, Wabup dan DPRD Lembata Terancam Tidak Terima Gaji Enam Bulan


09/01/2015 by BEN No Comments
KUPANG. FBC- Bupati, Wakil Bupati dan seluruh anggota DPRD Kabupaten Lembata terancam tidak akan mendapatkan gaji selama enam bulan pertama pada tahun 2015. Selain Lembata, tiga kabupaten lainnya yang akan mengalami nasib yang sama adalah Kabupaten Belu, Malaka dan Sumba Barat Daya.
Sekretaris Daerah (Sekda) NTT, Frans Salem
Sekretaris Daerah (Sekda) NTT, Frans Salem
Sanksi terhadap Lembata  dan tiga kabupaten lainnya di NTT itu pasti dilakukan karena keempat kabupaten itu tidak berhasil menetapkan APBD 2015 hingga deadline waktu yakni 31 Desember 2014 yang diberikan oleh Kementerian Dalam Negeri melalui Surat Edaran (SE) Nomor 903/6865/SJ yang ditujukan kepada gubernur, bupati/wali kota, ketua DPRD provinsi, ketua DPRD kabupaten/kota di seluruh Indonesia tanggal 24 November 2014.
Sekretaris Daerah, Provinsi NTT, Fransiskus Salem yang dikonfirmasi di Kupang, Kamis, 08 Januari 2015 menjelaskan, surat edaran (SE) itu bersifat segera dengan perihal percepatan penyelesaian rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran (TA) 2015. SE ditandatangani Mendagri Tjahjo Kumolo pada 24 November 2014, ditembuskan ke presiden, wakil presiden dan menteri keuangan.
Dia menjelaskan, Kemendagri meminta kepala daerah, DPRD di seluruh Indonesia untuk memperhatikan lima hal. Pada butir kelima disebutkan, kepala daerah dan DPRD yang tidak menyetujui bersama Raperda tentang APBD sebelum dimulainya TA setiap tahun akan dikenakan sanksi administratif berupa tidak dibayarkan hak-hak keuangan selama enam bulan.
Salem kemudian menegaskan, sesuai SE tesebut maka jika ada Kabupaten yang belum berhasil menetapkan APBD 2015 maka mereka akan mendapatkan sanksi seperti itu. Dia juga membenakan, jika di NTT ada empat Kabupaten yang belum menetapkan PABD 2015 hingga saat ini yakni Lembata, Belu, Malaka dan Sumba Barat Daya.
“Untuk NTT ada empat kabupaten yang belum menetapkan APBD.Kita dorong agar secepatnya menetapkannya sehingga tidak mengganggu tugas-tugas pemerintahan dan pelayanan ke masyarakat,” jelas Salem. (Oni
Diposting oleh Unknown di 01.06 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Rabu, 07 Januari 2015

Mendagri Copot Dana DeMAM Rp 3,8 Miliar


Mendagri Copot Dana DeMAM Rp 3,8 Miliar




Mendagri Copot Dana  DeMAM Rp 3,8 Miliar
istimewa
Viktor Lerik, anggota DPRD NTT
POS-KUPANG.COM, KUPANG -- Menteri Dalam Negeri (Mendagri),  Tjahjo Kumolo, melarang Gubernur NTT mengalokasikan anggaran dari APBD NTT tahun 2015 untuk pengembangan Desa  Mandiri Anggur Merah (DeMAM)  sebesar Rp 3,8 miliar.
Selain melarang alokasi ABPD untuk DeMAM, Mendagri juga melarang alokasi APBD NTT 2015 untuk sejumlah program dan kegiatan lainnya yang jika ditotalkan mencapai Rp 464,216 miliar lebih, tersebar dalam 130 kode rekening.
Dari jumlah ini, terdapat di dalamnya alokasi untuk belanja bantuan sosial dan belanja hibah. Bukan saja melarang, Mendagri juga meminta Gubernur melakukan rasionalisasi dan pengurangan terhadap 80 kode rekening senilai sekitar Rp 303,622 miliar lebih.
Hal ini termuat dalam Keputusan Mendagri Nomor 903-4767 tahun 2014, tanggal 29 Desember 2014, tentang evaluasi ranperda NTT tentang APBD 2015 dan Ranpergub NTT tentang penjabaran APBD 2015.
"Anggaran dengan kode rekening 1.06.1.06.01.30.05.5.2.2.26.01 belanja penyelenggaraan program desa mandiri Rp 3.820.500.000 dalam kegiatan pengembangan Desa Mandiri Anggur Merah pada SKPD Bappeda NTT dilarang untuk dianggarkan dalam APBD 2015," demikian bunyi larangan Mendagri dalam keputusannya.
Mendagri tak lupa menyebutkan alasan pelarangan alokasi antara lain karena mengingat nomenklatur rincian proyek belanja untuk DeMAM ini tidak menggambarkan satuan terkecil sebagai rincian obyek belanja  yang akan ditransaksikan  sesuai prinsip  anggaran berbasis kinerja ditinjau dari indikator, tolok ukur dan target kinerja kegiatan yang diharapkan.
Anggota Badan Anggaran DPRD NTT, Bonifasius Jebarus dan Viktor Lerik, kepada Pos Kupang di Kantor DPRD NTT, Rabu (7/1/2015), mengatakan, keputusan Mendagri itu merupakan hasil evaluasi terhadap perda ABPD NTT tahun 2015 yang dikonsultasikan ke Mendagri.
Keduanya mengaku bersama anggota Badan Anggaran DPRD NTT lainnya baru mendapatkan kopian keputusan Mendagri itu untuk selanjutnya dipelajari dan dibahas dalam rapat paripurna DPRD NTT, Kamis (8/1/2015).
"Kita akan pelajari keputusan Mendagri ini dan akan dibahas dalam rapat paripurna besok (hari ini, Red)," kata Jebarus.
Sebagai Anggota DPRD NTT dan Anggota Badan Anggaran, keduanya setuju dengan keputusan Mendagri karena anggaran yang ada diarahkan untuk mendanai program dan kegiatan prioritas dalam rangka memenuhi pencapaian kesehatan dan pengembangan sarana dan prasarana yang terkait dengan peningkatan pelayanan kepada masyarakat.
Tentang pembangunan gedung kantor gubernur NTT, Jebarus dan Viktor mengatakan masih akan mendalami lampiran keputusan Mendagri setebal puluhan halaman itu untuk mengetahui ada tidak larangan untuk pembangunan gedung kantor itu dan kegiatan lain yang sebelumnya sempat diperdebatkan di tingkat DPRD NTT.
Lebih lanjut Jebarus dan Viktor mengatakan, keputusan Mendagri itu wajib ditaati dan dilakukan penyesuaian. Jika tidak, maka akan ada sanksi berupa pembatalan APBD 2015.
"Konsideransnya  Keputusan Mendagri ini jelas bahwa kalau gubernur dan DPRD tidak menindaklanjuti hasil evaluasi ini, maka Mendagri akan membatalkan dan kita akan gunakan APBD 2014," katanya.
Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, menjadikan Program DeMAM sebagai program andalan pengentasan kemiskinan di NTT. Program ini telah berjalan sejak tahun 2011 dan sudah ratusan desa di NTT mendapatkan alokasi dana ini sebesar Rp 250 juta per des
Diposting oleh Unknown di 17.08 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Selasa, 30 Desember 2014

Komunitas Karyawan Muda Katolik Keuskupan Agung Jakarta Home Tentang Kami Kegiatan Berita Bacaan Gallery Hubungi Kami « [Jadwal] Misa Taize Akhir Tahun St. Laurensius Jadwal Misa Pekan Suci Paroki Se-KAJ 2012 » Renungan Akhir Tahun & Resolusi Tahun Baru 2011 Waktu adalah sesuatu yang tak terbendung, ia akan terus bergerak sekalipun kita telah lelah untuk beranjak dari tempat kita berdiri, ia akan terus melangkah ke depan sekalipun kita telah kehilangan semangat dalam mengarungi kehidupan ini. Tapi inilah realitas dari kehidupan, ketika kita merasa telah berjuang begitu keras, ternyata masih banyak kerikil tajam yang masih mengganjar di setiap langkah kita, ketika kita telah berupaya, masih ada kegagalan yang menghampiri kita, masih ada tangis yang mengiringi jalan kita, masih banyak hal yang tidak sesuai dengan harapan kita, apalagi ketika kita memasuki tahun-tahun penuh tantangan seperti ini. Di keluarga, ketika kita didudukan sebagai anak, kita merasa kurang mendapat perhatian dari orang tua, dan sebaliknya sebagai orang tua, kita merasa anak zaman sekarang sangat sulit dididik, walaupun kita telah berupaya melakukan terbaik untuknya, lalu ketika usia kita beranjak senja, sebagai opa dan oma, kita merasa ditinggali dan terabaikan, kita kesepian. Di pekerjaan, ketika kita didudukan sebagai karyawan, kita merasa tenaga kita telah diperas habis oleh perusahaan dan sebaliknya sebagai pemilik perusahaan, kita merasa karyawan kita kurang berdedikasi dan tidak bertanggungjawab, dan hanya pintar menuntut. Dan ketika hal itu terjadi pada diri kita, ketika kita dibenturkan dengan masalah-masalah tersebut, kita merasa sebagai makhluk yang paling malang, sebagai insan yang paling menderita di dunia.Kita pun segera bertanya-tanya, mengapa alam begitu tidak adil, mengapa kita harus terlahir menanggung derita-derita yang berkepanjangan ini? Ketika rentetan peristiwa datang bertubi-tubi dan pertanyaan itu tak terjawabkan, kita dilanda rasa frustasi yang teramat sangat, kita merasa begitu lelah, kita merasa terabaikan, tubuh kita seakan mati rasa, denyut nadi kita berhenti sesaat, kita segera terjebak dalam ruang gelap yang tidak pernah kita tahu kapan berakhirnya.Lalu, sebelum semuanya semakin kelam, mari kita katup mata kita dan buka hati kita, mari kita manfaatkan waktu ini untuk merenung, menelaah dan mencari pencerahan dari cerita kecil ini, sang tukang kayu dalam kisah ini mungkin akan membangunkan hati kita. Tidakkah hidup seringkali terasa membosankan? Hampa dan tak bermakna? Hari-hari dalam kehidupan ini kita lalui begitu saja. Lewat tanpa disadari. Kita berubah menjadi seperti mesin. Dengan letupan-letupan sesaat. Bergerak terus hingga waktu membuat kita aus, berkarat lalu perlahan-lahan rusak dan mati. Tetapi jika kita adalah mesin, apakah gunanya pemikiran kita? Apakah fungsinya kesadaran kita? Tidakkah seharusnya kita jelajahi hidup untuk mencari kebenaran. Untuk membuktikan keberadaan kita di dunia ini. Dan kita dapat menghindari penderitaan dengan menyatakan kejujuran. Mengapa kita harus melarikan diri dengan berpura-pura bahwa segalanya abadi? Mengapa kita harus menyembunyikan duka lara kita masing-masng? Penderitaan memang dapat terjadi karena hal-hal yang di luar jangkauan kita. Lingkungan kita, orang lain, ketidak mampuan kita atau karena sistim yang membelenggu dengan aturan-aturan yang tidak adil. Tetapi jauh lebih sering, ternyata, bahwa penderitaan kita berasal dari diri kita sendiri. Dari pola pikir kita. Dari keinginan-keinginan kita. Dari nafsu dan ambisi kita. Dari ketidak mampuan kita untuk menilai dan memahami dunia di luar diri kita. Dan dari kegagalan kita untuk mencapai sasaran-sasaran yang kita inginkan. Kita terbui dalam ruang sempit ke-AKU-an sehingga gagal melihat banyak hal di luar dinding ke-AKU-an kita. Banyak hal yang baik pun yang buruk. Yang harum pun yang busuk. Yang indah pun yang jelek. Hidup bukanlah sebuah mimpi. Hidup adalah kenyataan yang mesti dialami bersama dunia seluruhnya. Kita dituntut untuk menyadari hal itu. Dikisahkan, seorang tukang kayu yang telah kelelahan berkarya ingin segera menjalani kehidupan pensiunnya, sejak awal dia adalah tukang kayu yang berbakat, tukang kayu yang berdedikasi tinggi atas pekerjaannya, tukang kayu yang bertanggung jawab penuh.Ketika ia menyampaikan keinginannya kepada Sang Tuan, ia malah diberi tugas terakhir sebelum pensiun, sang Tuan ingin ia membuat sebuah rumah megah untuknya. Tukang kayu yang berbakat itu tiba-tiba berubah, ia menjadi tukang kayu yang sembrono, tukang kayu yang asal-asalan. Pukulan palu yang harus ia ayunkan tiga kali, hanya ia ayunkan satu kali, itu pun ia lakukan dengan tidak sepenuh hati. Dengan terpaksa ia menyelesaikan tugas terakhirnya, ia merasa Sang Tuan tidak lagi berpihak padanya, ia sungguh kecewa. Dan kekecewaannya ia lampiaskan pada pekerjaanya. Sebuah “Rumah Mewah” yang jauh dari arti “Mewah ” akhirnya selesai tepat waktu.Ketika hari pensiun tiba, sang tukang kayu akhirnya mendapat sebuah amplop yang berisi sejumlah uang pensiun dan sebuah “KUNCI” rumah. Ketika ia menerimanya segera ia tersadar, ternyata kunci yang digenggamnya adalah kunci dari “Rumah Mewah” yang baru selesai dibangunnya. “Hadiah special ini dipersembahkan padamu, karena kerjamu yang luar biasa dan berdedikasi selama bekerja di sini.” Kata Sang Tuan.Lalu, sang tukang kayu hanya mampu melihat kunci rumah itu dengan “PENYESALAN”. Bukankah kita seperti tukang kayu ini, kita kadang-kadang lupa bahwa kita adalah pembuat rumah untuk diri kita sendiri.Ketika kita membangun rumah masa depan kita dengan sembrono, kita akan mendapatkan rumah yang mungkin kita tidak sukai, tapi itulah rumah yang harus kita tempati, rumah yang kita bangun dengan ayunan tangan kita. Kita boleh merasa kecewa ketika kita mendapati kenyataan bahwa rumah kita tidak seindah yang kita impikan, bahkan reok. Kita boleh merasa kecewa ketika kita harus melalui kehidupan yang tidak menyenangkan, tapi inilah realitas hidup, sedih yang berkepanjangan tidak akan mengubah rumah yang telah kita bangun dengan tangan kita sendiri, oleh karma yang telah kita tanamkan. Lalu, mari kita kembali pada kehidupan kita yang keras, yang penuh tantangan, ketika segalanya berubah menjadi kacau dan tidak terkendali, ketika kita begitu frustasi. Saat ini, kita masih diberi waktu untuk mengubah rumah masa depan kita, kita masih diberi waktu untuk memperindah setiap sudut ruangan hati kita. Mari kita kembali renungkan apa yang telah kita perbuat selama ini, bagaimana kita membangun rumah kita, seberapa baik kita telah membangun masa depan kita? Disadari atau tidak, kita dapat membangun rumah kecil kita melalui hal-hal sederhRenungan Akhir Tahun & Resolusi Tahun 2014ana, kita dapat membangunnya melalui pelukan kita pada mama


Renungan Akhir Tahun & Resolusi Tahun 2014


Waktu adalah sesuatu yang tak terbendung, ia akan terus bergerak sekalipun kita telah lelah untuk beranjak dari tempat kita berdiri, ia akan terus melangkah ke depan sekalipun kita telah kehilangan semangat dalam mengarungi kehidupan ini.


Tapi inilah realitas dari kehidupan, ketika kita merasa telah berjuang begitu keras, ternyata masih banyak kerikil tajam yang masih mengganjar di setiap langkah kita, ketika kita telah berupaya, masih ada kegagalan yang menghampiri kita, masih ada tangis yang mengiringi jalan kita, masih banyak hal yang tidak sesuai dengan harapan kita, apalagi ketika kita memasuki tahun-tahun penuh tantangan seperti ini.


Di keluarga, ketika kita didudukan sebagai anak, kita merasa kurang mendapat perhatian dari orang tua, dan sebaliknya sebagai orang tua, kita merasa anak zaman sekarang sangat sulit dididik, walaupun kita telah berupaya melakukan terbaik untuknya, lalu ketika usia kita beranjak senja, sebagai opa dan oma, kita merasa ditinggali dan terabaikan, kita kesepian.


Di pekerjaan, ketika kita didudukan sebagai karyawan, kita merasa tenaga kita telah diperas habis oleh perusahaan dan sebaliknya sebagai pemilik perusahaan, kita merasa karyawan kita kurang berdedikasi dan tidak bertanggungjawab, dan hanya pintar menuntut. Dan ketika hal itu terjadi pada diri kita, ketika kita dibenturkan dengan masalah-masalah tersebut, kita merasa sebagai makhluk yang paling malang, sebagai insan yang paling menderita di dunia.Kita pun segera bertanya-tanya, mengapa alam begitu tidak adil, mengapa kita harus terlahir menanggung derita-derita yang berkepanjangan ini?


Ketika rentetan peristiwa datang bertubi-tubi dan pertanyaan itu tak terjawabkan, kita dilanda rasa frustasi yang teramat sangat, kita merasa begitu lelah, kita merasa terabaikan, tubuh kita seakan mati rasa, denyut nadi kita berhenti sesaat, kita segera terjebak dalam ruang gelap yang tidak pernah kita tahu kapan berakhirnya.Lalu, sebelum semuanya semakin kelam, mari kita katup mata kita dan buka hati kita, mari kita manfaatkan waktu ini untuk merenung, menelaah dan mencari pencerahan dari cerita kecil ini, sang tukang kayu dalam kisah ini  mungkin akan membangunkan hati kita.

Tidakkah hidup seringkali terasa membosankan? Hampa dan tak bermakna? Hari-hari dalam kehidupan ini kita lalui begitu saja.
Lewat tanpa disadari. Kita berubah menjadi seperti mesin. Dengan letupan-letupan sesaat. Bergerak terus hingga waktu membuat kita aus, berkarat lalu perlahan-lahan rusak dan mati. Tetapi jika kita adalah mesin, apakah gunanya pemikiran kita? Apakah fungsinya kesadaran kita? Tidakkah seharusnya kita jelajahi hidup untuk mencari kebenaran. Untuk membuktikan keberadaan kita di dunia ini. Dan kita dapat menghindari penderitaan dengan menyatakan kejujuran. Mengapa kita harus melarikan diri dengan berpura-pura bahwa segalanya abadi? Mengapa kita harus menyembunyikan duka lara kita masing-masng?

Penderitaan memang dapat terjadi karena hal-hal yang di luar jangkauan kita. Lingkungan kita, orang lain, ketidak mampuan kita atau karena sistim yang membelenggu dengan aturan-aturan yang tidak adil. Tetapi jauh lebih sering, ternyata, bahwa penderitaan kita berasal dari diri kita sendiri. Dari pola pikir kita. Dari keinginan-keinginan kita. Dari nafsu dan ambisi kita. Dari ketidak mampuan kita untuk menilai dan memahami dunia di luar diri kita. Dan dari kegagalan kita untuk mencapai sasaran-sasaran yang kita inginkan. Kita terbui dalam ruang sempit ke-AKU-an sehingga gagal melihat banyak hal di luar dinding ke-AKU-an kita. Banyak hal yang baik pun yang buruk. Yang harum pun yang busuk. Yang indah pun yang jelek. Hidup bukanlah sebuah mimpi. Hidup adalah kenyataan yang mesti dialami bersama dunia seluruhnya. Kita dituntut untuk menyadari hal itu.
Dikisahkan, seorang tukang kayu yang telah kelelahan berkarya ingin segera menjalani kehidupan pensiunnya, sejak awal dia adalah tukang kayu yang berbakat, tukang kayu yang berdedikasi tinggi atas pekerjaannya, tukang kayu yang bertanggung jawab penuh.Ketika ia menyampaikan keinginannya kepada Sang Tuan, ia malah diberi tugas terakhir sebelum pensiun, sang Tuan ingin ia membuat sebuah rumah megah untuknya.

Tukang kayu yang berbakat itu tiba-tiba berubah, ia menjadi tukang kayu yang sembrono, tukang kayu yang asal-asalan. Pukulan palu yang harus ia ayunkan tiga kali, hanya ia ayunkan satu kali, itu pun ia lakukan dengan tidak sepenuh hati. Dengan terpaksa ia menyelesaikan tugas terakhirnya, ia merasa Sang Tuan tidak lagi berpihak padanya, ia sungguh kecewa. Dan kekecewaannya ia lampiaskan pada pekerjaanya.


Sebuah “Rumah Mewah” yang jauh dari arti “Mewah ”  akhirnya selesai tepat waktu.Ketika hari pensiun tiba, sang tukang kayu akhirnya mendapat sebuah amplop yang berisi sejumlah uang pensiun dan sebuah “KUNCI” rumah.  Ketika ia menerimanya segera ia tersadar, ternyata kunci yang digenggamnya adalah kunci dari “Rumah Mewah” yang baru selesai dibangunnya.  “Hadiah special ini dipersembahkan padamu, karena kerjamu yang luar biasa dan berdedikasi selama bekerja di sini.” Kata Sang Tuan.Lalu, sang  tukang kayu hanya mampu melihat kunci rumah itu dengan “PENYESALAN”.


Bukankah kita seperti tukang kayu ini, kita kadang-kadang lupa bahwa kita adalah pembuat rumah untuk diri kita sendiri.Ketika kita membangun rumah masa depan kita dengan sembrono, kita akan mendapatkan rumah yang mungkin kita tidak sukai, tapi itulah rumah yang harus kita tempati, rumah yang kita bangun dengan ayunan tangan kita. Kita boleh merasa kecewa ketika kita mendapati kenyataan bahwa rumah kita tidak seindah yang kita impikan, bahkan reok.


Kita boleh merasa kecewa ketika kita harus melalui kehidupan yang tidak menyenangkan, tapi inilah realitas hidup, sedih yang berkepanjangan tidak akan mengubah rumah yang telah kita bangun dengan tangan kita sendiri, oleh karma yang telah kita tanamkan.


Lalu, mari kita kembali pada kehidupan kita yang keras, yang penuh tantangan, ketika segalanya berubah menjadi kacau dan tidak terkendali, ketika kita begitu frustasi. Saat ini, kita masih diberi waktu untuk mengubah rumah masa depan kita, kita masih diberi waktu untuk memperindah setiap sudut ruangan hati kita. Mari kita kembali renungkan apa yang telah kita perbuat selama ini, bagaimana kita membangun rumah kita, seberapa baik kita telah membangun masa depan kita? Disadari atau tidak, kita dapat membangun rumah kecil kita melalui hal-hal sederhana, kita dapat membangunnya melalui pelukan kita pada mama, melalui secangkir kopi yang kita suguhkan pada papa, melalui kecupan selamat pagi untuk pasangan kita, atau melalui aluran tangan kita untuk menuntun bocah-bocah kecil kita.


Ketika damai dalam rumah kecil itu tercipta, kita akan mampu memancarkan cahaya kasih yang terbentuk dari rumah ini melalui uluran tangan kita bagi mereka yang membutuhkannya, kita juga akan mampu membangun kesempatan untuk tumbuh dan berkembang, kesempatan untuk membangun rumah yang jauh lebih besar dan megah,  yang dapat memberikan kehangatan kasih bagi insan-insan yang mendiaminya. Ketika hal itu tercipta, semua akan terasa indah, masalah yang datang bertubi-tubi akan menjadi batu asah dalam memperindah kualitas hidup kita.


Beban berat yang kita pikul akan menjadi lebih ringan, karena tangan-tangan kasih dari ayah bunda, saudara, kerabat dan teman akan membantu kita melaluinya. Dan kita pun akan menjadi kokoh.   Melalui kesempatan ini, ketika kita  masih ada waktu, selama kita masih diberi kesempatan untuk berbagi kasih, mari kita lakukan hal-hal sederhana itu sekali lagi.  Mari peluk Mama yang di samping kita dan nyatakanlah cinta kita, mari kita kecup kening bocah kecil kita, mari kita genggam tangan pasangan kita dengan mesra, mari kita jabati teman kita dan katakan betapa kita menghargai persahabatan itu dan mari kita maafkan mereka yang pernah menyakiti kita.

Yakinlah, bahwa rumah kita akan semakin ceria dan penuh kasih, rumah kita akan semakin indah di tahun baru ini.Ketika kita telah mampu membangun rumah kecil kita dengan indah, kita juga akan dapat membangun keindahan dunia ini, kita akan mampu menghadirkan surga untuk kita semua. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.
”Kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin.  Mimpi hari ini adalah Kenyataan Hari esok”

Buat Impian Sekarang Juga


Akhir tahun seperti ini adalah saat yang penting untuk introspeksi atas prestasi yang telah kita capai hingga saat ini dan pada saat yang sama berani merencanakan untuk kemakmuran kita di tahun mendatang. Ada ungkapan yang mengatakan : “Barangsiapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia merupakan orang yang beruntung. Kalau sama saja, Dia adalah orang yang merugi. Kalau lebih buruk, Dia adalah orang yang celaka”.


Jadi, mumpung masih ada waktu mari kita luangkan waktu untuk sejenak menyepi dan membuat big picture, visi atau impian yang kita inginkan untuk kemakmuran kita di tahun mendatang. Atau dalam bahasa agama, mulailah dengan niat atau nawaitu seperti yang disampaikan dalam hadist arbain an nawawi : “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya……”.


Sebagai penggugah, Bill Gates pernah bermimpi suatu saat dapat menghadirkan komputer ke rumah-rumah. Sesuatu yang dianggap sulit diwujudkan pada masa itu. Mimpinya itu hari ini menjadi kenyataan dengan menjadikannya sebagai orang terkaya di dunia. Perlu diingat, mimpi dapat mengubah hidup seseorang.


Begitu juga dengan Oprah winfrey, siapa yang tidak kenal nama ini. Pada usia 9 tahun, Oprah mengalami pelecehan sexual, dia diperkosa oleh saudara sepupu ibunya beserta teman-temannya dan terjadi berulang kali. Di usia 13 tahun Oprah harus menerima kenyataan hamil dan melahirkan, namun bayinya meninggal dua minggu setelah dilahirkan. Ia memiliki obsesi menjadi manusia sukses yang punya karakter dan ia berhasil.

Masih banyak lagi kisah-kisah luar biasa berhasil diwujudkan orang-orang sukses karena dalam dirinya tertanam mimpi, obsesi dan harapan. Itulah energi yang menghantarkan mereka ke puncak kesuksesan. Mereka berhasil keluar dari derita, mereka berhasil mendobrak pintu kelemahan, mereka mampu mewujudkan harapannya menjadi kenyataan.



Diposting oleh Unknown di 04.16 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Berkas Yance Sudah Sampai di Kejaksaan Tinggi Jabar Jumat, 12 Desember 2014 19:28 WITA + Share Berkas Yance Sudah Sampai di Kejaksaan Tinggi Jabar Net POS KUPANG.COM, BANDUNG - Kejaksaan Agung telah melimpahkan berkas penyidikan mantan Bupati Indramayu Irianto MS Syafiuddin atau Yance dalam kasus dugaan korupsi pembebasan lahan untuk PLTU I Indramayu, kepada Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Jumat. "Ya berkasnya sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi Jabar. Dia langsung menjalani pemeriksaan," kata Kepala Seksi Penerangan Umum Kejaksaan Tinggi Jawa Barat Suparman di Bandung, Jumat. Tim Kejaksaan Agung yang membawa Yance tiba di gedung Kejaksaan Tinggi Jawa Barat pukul 13.00 WIB dan langsung menjalani proses pelimpahan di ruang Pidana Khusus di lantai empat. Tersangka perkara pembebasan lahan untuk pembangunan PLTU I Indramayu itu dijemput Kejaksaan Agung Jumat pekan lalu di Indramayu. Setelah pelimpahan berkas ke Kejaksaan Tinggi Jawa Bara, maka persidangan Yance akan digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Bandung. (antara)

Jumat, 12 Desember 2014 19:28 WITA


POS KUPANG.COM, BANDUNG - Kejaksaan Agung telah melimpahkan berkas penyidikan mantan Bupati Indramayu Irianto MS Syafiuddin atau Yance dalam kasus dugaan korupsi pembebasan lahan untuk PLTU I Indramayu, kepada Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Jumat.
"Ya berkasnya sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi Jabar. Dia langsung menjalani pemeriksaan," kata Kepala Seksi Penerangan Umum Kejaksaan Tinggi Jawa Barat Suparman di Bandung, Jumat.
Tim Kejaksaan Agung yang membawa Yance tiba di gedung Kejaksaan Tinggi Jawa Barat pukul 13.00 WIB dan langsung menjalani proses pelimpahan di ruang Pidana Khusus di lantai empat.
Tersangka perkara pembebasan lahan untuk pembangunan PLTU I Indramayu itu dijemput Kejaksaan Agung Jumat pekan lalu di Indramayu.
Setelah pelimpahan berkas ke Kejaksaan Tinggi Jawa Bara, maka persidangan Yance akan digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Bandung. (antara)
Diposting oleh Unknown di 03.48 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Minggu, 21 Desember 2014

Perbatasan RI-TL, ini kata Jokowi Added by frida on December 21, 2014. Saved under Populer jokowiFoto: Kompas.com. MORAL-POLITIK.COM- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, keadaan masyarakat di sekitar perbatasan belum terperhatikan secara maksimal. Padahal, anggaran untuk daerah perbatasan lumayan besar. Hal itu disampaikan Jokowi, usai berkunjung ke pintu perbatasan Motaain, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia pun melihat langsung kondisi masyarakat yang bermukim di perbatasan dengan Timor Leste (TL) tersebut. “Tadi dalam perjalanan dari bandara ke sini (Motaain) kita lihat sendiri terutama yang berada di pinggir (sepanjang jalan ke Motaain) yang kurang terperhatikan sehingga ini yang nanti akan mulai kita kerjakan,” kata Jokowi, saat diwawancarai sejumlah wartawan di atas jembatan Motaain, Sabtu (20/12/2014). Melansir kompas.com, selain itu, kata Jokowi, dirinya akan memperbaiki bentuk pelayanan di perbatasan seperti bea cukai, karantina dan lainnya yang harus terintegrasi dalam satu atap atau satu pintu. Yang paling penting, sebut Jokowi, semua masyarakat bisa dilayani baik yang keluar negeri maupun yang masuk ke Indonesia. ”Tahun depan (2015) akan kita rombak total soal pelayanan di pintu perbatasan (Motaain) ini,” kata dia. Jokowi, mengatakan, anggaran untuk daerah perbatasan sebenarnya sangat besar, namun fokus pembangunannya tidak jelas. Ia pun berjanji akan mengubah hal tersebut.

Perbatasan RI-TL, ini kata Jokowi

Added by frida on December 21, 2014.
Saved under Populer
jokowiFoto: Kompas.com.



MORAL-POLITIK.COM- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, keadaan masyarakat di sekitar perbatasan belum terperhatikan secara maksimal. Padahal, anggaran untuk daerah perbatasan lumayan besar.
Hal itu disampaikan Jokowi, usai berkunjung ke pintu perbatasan Motaain, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia pun melihat langsung kondisi masyarakat yang bermukim di perbatasan dengan Timor Leste (TL) tersebut.
“Tadi dalam perjalanan dari bandara ke sini (Motaain) kita lihat sendiri terutama yang berada di pinggir (sepanjang jalan ke Motaain) yang kurang terperhatikan sehingga ini yang nanti akan mulai kita kerjakan,” kata Jokowi, saat diwawancarai sejumlah wartawan di atas jembatan Motaain, Sabtu (20/12/2014).
Melansir kompas.com, selain itu, kata Jokowi, dirinya akan memperbaiki bentuk pelayanan di perbatasan seperti bea cukai, karantina dan lainnya yang harus terintegrasi dalam satu atap atau satu pintu.
Yang paling penting, sebut Jokowi, semua masyarakat bisa dilayani baik yang keluar negeri maupun yang masuk ke Indonesia. ”Tahun depan (2015) akan kita rombak total soal pelayanan di pintu perbatasan (Motaain) ini,” kata dia.
Jokowi, mengatakan, anggaran untuk daerah perbatasan sebenarnya sangat besar, namun fokus pembangunannya tidak jelas. Ia pun berjanji akan mengubah hal tersebut.
Diposting oleh Unknown di 17.31 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Mengenai Saya

Unknown
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

  • ▼  2015 (4)
    • ▼  Januari (4)
      • Kompas.com/SABRINA ASRIL Preside...
      • PAGRAM PNPM DI HENTIKAN,RIBUAN TENAGA PENDAMPING T...
      • Bupati, Wabup dan DPRD Lembata Terancam Tidak Teri...
      • Mendagri Copot Dana DeMAM Rp 3,8 Miliar
  • ►  2014 (12)
    • ►  Desember (12)
Tema Jendela Gambar. Diberdayakan oleh Blogger.